Selasa, 30 November 2010

Mitos Leak

Pulau Bali sangat terkenal sebagai Pulau yang magis. Di Bali kalau menyebut kata Leak, hampir semua orang faham dengan apa yang dimaksudkan. Pikiran akan mengarah terhadap seseorang atau suatu perbuatan yang dilakukan orang dan akan merugikan orang lain. Hebatnya lagi perbuatan jahat ini sangat sulit untuk dibuktikan, sehingga seseorang tidak dapat dituntut karena telah melakukan perbuatan yang merugikan dengan ilmu leaknya.
Orang sering menyampaikan kalau anggota keluarga mereka meninggal akibat leak atau suami yang dulunya garang, tiba-tiba menurut terhadap istrinya itu juga karena pengaruh leak. Dua saudara yang hidup dalam satu natah (halaman) sudah lama tidak berkomunikasi akibat ada kecurigaan istri saudaranya bisa ngeleak. Sehingga kerukunan keluarga atau kerukunan keturunannya dianggap tidak penting lagi, hanya karena kecurigaan memiliki ilmu leak. Hebohnya lagi ada orang dibantai hingga meninggal akibat dikeroyok orang sekampung, hanya karena dicurigai memiliki ilmu leak.
Apakah leak itu memang ada? Kalau memang eksis, seperti apakah bentuknya? Kenapa sangat menakutkan? Menurut cerita orang leak dapat berubah wujud dari bentuk binatang, hingga terkadang dapat berubah menjadi bentuk pesawat terbang, bahkan helikopter. Kalau memang sehebat seperti yang diceritakan orang, kenapa orang Bali tidak membuat pasukan siluman saja? Amerika mungkin menjadi gentar dengan kecanggihan laskar leak Bali.
Beberapa tahun yang lalu di Bali pernah heboh dengan issu ‘Leak Mepalu’ artinya leak bertempur di pantai Sanur. Hampir seluruh masyarakat Denpasar pada malam hari datang ke pantai Sanur untuk menyaksikan pertempuran ini. Cerita yang beredar mengatakan bahwa ada yang berbentuk bola api, berbentuk burung Garuda, bentuk bade orang meninggal dan berbentuk helikopter yang mampu landing di atas pohon kelapa. Mereka bertempur mengadukan kesaktian mereka di atas air laut Sanur. Konon pertempuran ini dapat disaksikan dengan amat jelas. Seluruh perjalanan pertempuran itu detailnya dapat dilihat dengan sangat jelas, termasuk rintihan leak yang mengalami kekalahan. Banyak bangkai leak dapat disaksikan, karena langit yang biasanya gelap, malam itu terang akibat api (ndih) leak yang banyak berterbangan di udara. Cerita yang sangat menghebohkan itu membuat orang seluruh Bali berdatangan ke pantai Sanur, menanti perang leak hingga pagi hari hampir selama seminggu, namun ternyata leak yang akan bertempur berhalangan hadir.
Kelestarian cerita leak di Bali tidak terlepas dari kesenian rakyat Bali yang masih sering dipentaskan yakni ‘Calonarang’ Alur cerita calonarang selalu menceritakan asal muasalnya ilmu leak dari jaman kerajaan Kediri, dari sebuah desa pesisir yang disebut Desa Dirah.
Konon di desa ini pernah hidup seorang janda dengan anak tunggalnya seorang wanita. Karena persoalan hidupnya yang sangat berat atau mungkin karena persoalan cinta, sakit hati ditinggal lelaki, sehingga dia menjanda, maka wanita ini bertapa di tempat yang sunyi, agar diberikan kekuatan yang maha dahsyat. Ilmu yang ampuh ini akan dapat menundukkan segala ilmu yang ada di bumi ini. Pada jaman itu ilmu kesaktian hanya dikuasai oleh pihak lelaki. Mungkin karena ketabahan dan kesungguhannya memohon, para Dewa akhirnya mengabulkan permohonannya, maka janda itu menjadi wanita yang sakti tak tertandingi dan orang memanggilnya ‘Rangda Naten Dirah’ atau Janda dari Dirah.
Dalam tarian calonarang di tunjukkan Rangda Naten Dirah memiliki seorang anak perempuan yang telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik yang diberi nama ‘Dirah Ratna Menggali’. Gadis cantik yang tumbuh semakin dewasa, namun anehnya tidak ada cowok yang berani mendekat, naksir atau melamarnya. Hal ini sebenarnya wajar saja, ibunya sangat sakti dengan pengawalnya yang serem dan sakti, cowok normal pasti ciutlah nyalinya. Jangankan berkenalan, noleh saja sedapat mungkin harus dihindari. Bagaimana jadinya kalau pas ngelirik bertemu dengan pandangan ibunya? Konon sinar api panas bisa langsung keluar dari mata ibunya dan membakar tubuh atau apapun yang dipandangnya.
Ketidak hadiran cowok di sisi anak gadisnya yang cantik jelita, membuat Rangda Naten Dirah gulau hatinya. Kebenciannya dan sakit hatinya kepada lelaki semakin memuncak. Ternyata lelaki di dunia ini semua sama, hanya bisa membuat sakit hati wanita saja. Rangda Naten Dirah dengan kesaktiannya membuat wabah penyakit, dia ingin memusnahkan semua lelaki, keluarga dan keturunannya. Akibatnya hampir setiap hari orang-orang berbondong menggotong mayat kekuburan. Mayat yang meninggal karena sakit.
Raja Erlangga yang memerintah Kediri pada waktu itu sangat sedih dengan wabah penyakit di seluruh negeri. Raja memerintahkan Empu Bharadah untuk mengatasi persoalan wabah penyakit yang mematikan ini dengan segera. Sang Empu berpikir keras untuk mencari pokok persoalan dan mencari solusinya. Setelah dikumpulkan data dari lapangan, akhirnya Sang Empu menyimpulkan kalau persoalan ini adalah soal cinta semata yang kemudian menumbuhkan dendam seorang wanita sakti yang kalau diukur kesaktiannya Sang Empu masih kalah jauh.
Dari pada bertempur secara frontal yang pasti akan mengalami kekalahan, Sang Empu Bharadah memakai siasat untuk memenangkan pertempuran ini. Sang Empu mengutus anaknya yang cukup ganteng dan dibekali banyak ilmu untuk mendekati dan merayu Ratna Menggali. Misinya adalah membuat Ratna Menggali jatuh cinta dan bersedia untuk dijadikan istrinya. Setelah menjadi istrinya dengan segala usaha harus menggali informasi melalui Ratna Menggali, mencari tahu dimana letak titik lemah kesaktian ibunya. Ternyata strategi ini berhasil, Rangda Naten Dirah terbunuh,
Dalam tarian calonarang, sebelum terbunuh Rangda Naten Dirah mengeluarkan seluruh kesaktiannya, Pemain akan kesurupan dan mulai untuk menghunus keris mereka dan menghujamkan keris itu ketubuh penari Rangda. Setelah keris dihujamkan berkali-kali, Si Rangda ternyata masih hidup. Kesaktian Sang Empu berubah menjadi Barong. Namun tidak ada yang kalah dan menang dalam pertarungan ini, karena Rangda Nata Dirah ingin anaknya berbahagia, maka dia mohon doa Sang Empu untuk menghantarkannya ke kehidupan di dunia lain. Rangda Nata Dirah akhirnya musnah, dengan kekuatan doa Sang Empu diharapkan dalam kelahirannya kembali akan dapat meningkatkan kehidupannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Aku masih berpendapat kalau cerita leak di Bali itu hanyalah sebuah mitos yang dibesar-besarkan dan diceritakan dengan banyak variasi cerita, sehingga menjadi menyeramkan dan memancing orang untuk selalu ingin mendengarkan, karena versi dan variasi ceritanya selalu berbeda. Kalau yang bercerita ditanyakan lebih dalam “Apakah kamu pernah bertemu dengan leak?” Jawaban yang diberikan lebih banyak berupa karangan dan ilusi pengarangnya saja. Kenyataannya sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan leak. Belum pernah mendengar orang mati karena digigit atau dimakan leak dan belum pernah melihat mayat atau bangkai leak.
Ayahku menderita penyakit kencing manis. Suatu hari kondisi beliau sangat parah. Pengobatan kedokteran modern yang dia jalani selama ini tidak menunjukkan hasil yang baik, hingga suatu hari ada rekan yang menyarankan untuk berobat secara Bali atau pengobatan alternatif. Dalam kondisi untuk tidak memilih, sebagai anak aku menerima segala saran yang diberikan , sejauh itu menjanjikan kesembuhan ayahku. Beberapa dukun, balian dan paranormal dari segala penjuru, aliran, agama aku coba, namun semua belum memperlihatkan hasil. Suatu hari aku bertemu dengan Mangku Teja, beliau dengan rendah hati menjelaskan akan mencoba untuk menolong dan menjelaskan kalau beliau melakukan pengobatan dengan dasar ilmu hitam, pengiwa atau lebih dikenal dengan ilmu pengleakan. Aku pikir, siapa tahu kalau ini memang buatan leak, tentu Bapa Mangku akan dapat mengatasinya.
Selain sisi pengobatan yang harus dijalankan, akupun di ajak memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan ayahku. Hanya jalan permohonan yang di tempuh oleh Bapa Mangku adalah melaluiPura Mrajapati. Artinya pura yang terletak di areal kuburan, di tengah malam dan pasti akan mampir ke kuburannya. Demi kesembuhan ayahku, akupun mengikuti ritual upacara ini. Malam itu aku melihat Mangku Teja Ngeleak tepat di sampingku, karena hanya kami berdua di deretan paling depan. Sementara itu di depanku sesajen yang diletakkan di atas tanah kuburan yang baru semalam di tanam dan di belakang kami beberapa orang penduduk desa yang tahu kedatangan kami dan ikut menyaksikannya.
Malam itu suasana sangat hening, suara binatang malam kuburan sangat jelas terdengar. Lolongan anjing dan suara burung malam tak ketinggalan. Langit malam itu sangat cerah, bertaburan banyak bintang tanpa bulan. Ada yang mengganggu pikiranku. Disekitar pohon dikuburan beberapa sinar biru berterbangan dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Sinar biru melesat dengan cepat, lalu hilang, Aku penasaran sinar apa itu? Jelas bukan kunang-kunang karena setinggi pohon kelapa, jelas terlihat berarti ukurannya lebih besar dan bergerak cepat. Ada sekitar tiga buah menari-nari dengan arah ke samping, lalu menghilang. Karena belum yakin, pengalamanku malam itu aku simpan sendiri hingga hampir 20 tahun kemudian aku kembali bertemu dengan Bapa Mangku Teja di kediaman beliau di Bangli.
Mangku Teja menyambutku dengan ramah dan akrab. Beliau masih mengingatku dengan baik. Kebetulan kedatanganku ditemani oleh crew dari SCTV yang akan meliput kegiatan Mangku Teja, termasuk kemampuannya untuk ngeleak. Setelah kegiatan itu disetujui, akupun bertanya lebih dalam tentang leak.
“Bapa Mangku, bagaimana cara belajar ilmu leak?”
“Ilmu leak dapat dipelajari dengan mengenal sastra dan karena jaman sekarang orang pengen mudah dan cepat, dapat pula di transfer secara instant” Ujar Mangku Teja.
“Secara Instant? Maksud, bapa?”
“Dengan sesajen dan beberapa pesyaratan lainnya, nanti Bapa mohonkan kehadapan yang kuasa, kalau dikabulkan nanti akan diberikan tanda keberhasilan dan kalau gagal tidak ada tanda”
“Memangnya tandanya seperti apa, Bapa?” Desakku pula.
“Banyak macamnya, Bapa sulit untuk menjelaskannya karena masing-masing orang akan berbeda” Jelas Mangku.
Aku tidak berani untuk mendesak lebih dalam, namun menurut cerita orang, kalau ritual ini berhasil maka dari mulut orang itu akan mengeluarkan sinar api. Ritual seperti ini dilakukan di kuburan ditengah malam.
“Bagaimana dengan mereka yang belajar aksara atau dengan membaca lontar, apakah akan mengalami proses yang sama?”
“Begini, Leak itu sendiri sebenarnya berarti menghidupkan aksara di dalam tubuh. Atau dapat dikatakan menghidupkan cakra di dalam tubuh dengan aksara. Ketika aksara sudah hidup termasuk saudara empat yang kita ajak lahir, maka akan terpancar cahaya yang kita sebut dengan aura. Cahaya ini dapat dikeluarkan melalui segala lobang yang ada di badan manusia dan demikian pula sebaliknya”
“Jadi kalau orang mau ngeleak, harus menghidupkan mesinnya terlebih dahulu?” Tanyaku lagi.
“Boleh dikatakan seperti itu. Dia harus mampu menghidupkan aksaranya, lalu terserah mereka mau dibawa kemana. Kalau mau dikeluarkan dari tubuh dapat melalui lobang kepala atau mulut, lalu meninggalkan tubuh”.
“Lalu pergi kemana?”
“Terserah mereka mau kemana dikegelapan malam. Dalam pelepasan roh itu orang akan mengalami sensasi indah yang berbeda dan dalam kegelapan itu banyak keramaian karena akan bertemu dengan teman-teman lain yang mempunyai tujuan yang sama”.
“Apakah dapat terjadi benturan antar sesama anggota?”
“Sering seperti itu atau harus memenuhi janji bertempur karena kita berani mengobati seseorang yang mungkin saja yang dia inginkan untuk tetap sakit atau mati. Biasanya tidak ada jalan lain, selain harus dihadapi dan diselesaikan. Kalau yang kalah mereka akan diberikan opsi sesuai dengan luka yang diderita. Apakah nyawanya mau dicabut saat itu atau mohon pengampunan dengan batas waktu yang disetujui atau tunduk untuk menjadi budak dan melayani majikan” Ujar Mangku Teja lebih jauh.
Masyarakat Bali sangat faham dan sering melihat adanya sinar atau dalam bahasa Bali disebut ‘ndih’ yang bertempur di udara. Atau mendengar seseorang yang sakit atau mati mendadak, padahal dia dikenal sakti dan menguasai ilmu leak.
“Jadi, ilmu leak itu sebenarnya Apa?”
“Begini, Ilmu leak itu sebenarnya ilmu untuk mencari jalan mencapai sorga atau kalau bisa moksa. Kalau Bapa meninggal nanti, Bapa ingin roh Bapa itu dapat menyatu dengan Sang Pencipta”.
“Hah...?? Jalan menuju Sorga? Bukankah leak itu jahat? Semua orang pasti setuju kalau yang jahat itu tempatnya di neraka”. Ujarku memastikan.
“Disinilah kesalahan pengertian banyak orang”. Ujar Mangku Teja datar.
“Jadi Bapa tidak takut menyandang predikat sebagai orang yang bisa ngeleak dan dianggap sebagai tokoh leak?”
“Bapa tidak pernah takut kalau dalam kebenaran. Bapa menolong orang yang dalam kesusahan, Bapa menjadi anggota masyarakat yang baik, Bapa memberikan ilmu bagi yang ingin belajar, termasuk mendirikan sekolah seni untuk anak-anak yang mau belajar kesenian secara gratis dan semuanya Bapa lakukan dengan swadaya dan senang hati.”
“Tujuannya untuk apa?”
“Dalam usia yang sudah semakin tua, Bapa ingin memberikan semua yang Bapa miliki. Terutama kepada generasi muda agar mereka bisa berkesenian, menari, menabuh dan juga menulis aksara Bali yang sudah mulai langka. Semoga mereka menjadi generasi yang dapat menghargai kesenian leluhur mereka”.
Mangku Teja memang dikenal sebagai penari Rangda yang selalu menantang dalam Calonarang. Dalam setiap pemantasannya selalu mengundang mereka yang mau beradu ilmu pengleakan untuk hadir dan mencoba kekuatan ilmu mereka di atas panggung atau dimanapun, sehingga leak nakal tidak mengganggu masyarakat atau orang yang tidak bersalah.
“Apakah itu tidak mengandung resiko?” Tanyaku lagi.
“Selama ini Bapa senang untuk meladeni tantangan”.Ujarnya kalem.
“Apakah hanya tantangan ngeleak saja?”.
“Waktu ini ada yang lucu dari tamu Jepang. Dia datang kemari ditemani dengan guidenya untuk beradu ilmu tenaga dalam. Konon katanya dia sudah keliling dunia, namun belum ketemu lawan yang seimbang. Bapa tidak boleh sombong, namun Bapa ladeni pula tantangannya dengan taruhan. Dia memberikan taruhan sejumlah uang, karena Bapa tidak punya uang, nyawa Bapa taruhkan”.
“Bagaimana dengan jalannya pertarungan?” Desakku pula.
“Buktinya Bapa masih hidup. Sampai sekarang kami kenal baik dan dia sering mengirim rombongan dari Jepang untuk belajar ke gubuk Bapa”.
“Kenapa leak tetap dianggap jahat dan menyusahkan orang?” Tanyaku lagi.
“Ilmu leak sebenarnya sama kalau diumpamakan sebagai sebuah pisau. Karena sebagai sebuah ilmu, dapat dipergunakan untuk hal yang negatip dan positip. Tergantung dari si pemegang pisau itu sendiri tingkat kemampuan dan pengetahuannya. Mau dibawa kemana pisau itu.”
“Apakah dalam ilmu leak ada tingkatannya?”
“Sama seperti sekolah ada tingkatannya dan ada ujiannya. Kalau mereka yang baru bisa atau baru mengenal ilmu pengiwa (kiri), ini yang biasanya usil(ugig), karena selalu ingin mencoba kehebatan ilmunya”.
“Apa sangsinya mereka yang ugig itu, apakah tidak ada yang mengawasi atau mengontrol mereka?”
“Kalau mereka bertemu Bapa, biasanya Bapa habisi biar tidak banyak cerita lagi.” Ujar Mangku Teja santai.
Dalam dunia pengleakan dikenal adanya tingkatan ilmu. Kebanyakan mereka yang baru belajar ilmu pengleakan yang sering bertingkah dan membuat penyakit. Dalam sensasi atau ketika berubah menjadi sinar (ndih) atau bentuk apapun sesuai tingkat keilmuan mereka, mereka sering saling memakan atau bertempur antara satu dengan yang lainnya untuk syarat kenaikan tingkat keilmuannya.
Malam yang telah ditentukan tiba, beberapa teman yang ingin menyaksikan dan crew dari SCTV sudah siap. Sesajen yang akan dihaturkan juga sudah terlihat tersusun rapi. Kami hanya menunggu waktu, agar malam semakin larut. Kebetulan malam ini lokasi acara di kuburan Desa Adat Bambang, yakni tidak beberapa jauh dari rumah Mangku Teja.
Kami membawa segala persiapan ke kuburan. Tanah kuburan posisinya cukup tinggi dan dibawah terlihat jalan raya yang sudah sepi, namun sinar lampu jalanan masih mampu menerobos areal kuburan. Tidak beberapa lama lampu mati, ini berarti seluruh kampung menjadi gelap gulita. Mataku mencoba beradaptasi dengan gelap, namun hanya mampu melihat dengan jarak satu meter. Mangku Teja berjarak sekitar 20 meter dari kami. Dalam gelap banyak orang merangkak ikut menjadi penonton, sepertinya semua penduduk desa tahu kalau malam ini akan ada atraksi.
Untung ada cukup banyak kamera video yang dibawa penonton, kamera canggih yang dibawa crew SCTV yang sangat kami harapkan, tiba-tiba macet. Kami berjuang untuk dapat merekam atraksi malam itu sebaik mungkin dengan nightshoot.
Mangku Teja mengambil posisi berdiri. Dibawahnya seorang murid yang akan di baptis dan di depannya segala sesajen yang diperlukan. Mangku Teja mulai komat-kamit membaca mantra, setelah sekian lama suaranya mulai berubah menjadi merengkeh-rengkeh, sekali-kali menjerit, membuat suasana semakin mencekam. Tak lama kemudian terdengar cicitan anak ayam yang sepertinya telah tergenggam ditangannya, kemudian anak ayam menjerit lalu hilang suaranya. Anak ayam mati terkoyak tercabik giginya, lalu ditelannya mentah-mentah.
Badan Mangku Teja terlihat semakin tinggi, dia sepertinya berdiri di atas kepala muridnya, kemudian terlihat sinar keluar dari kedua matanya, sehingga raut muka sedikit jelas. Inilah proses perubahan tubuh atau yang dikenal dengan istilah ‘ngelekas’ atau ‘Ngereh’ , Perubahan wajah menjadi bentuk yang lain. Malam ini sepertinya akan berubah menjadi ‘Rangda’ atau Sang Hyang Bairawi, Perubahan tertinggi dalam tingkatan pengleakan. Hal ini dapat terlihat dari matanya yang melotot dan berapi, Suaranya yang sangat khas dan mungkin inilah masa keindahan sensasi yang dialami oleh orang yang sedang proses ‘Ngerehin’ yaitu saat akan berubah wujud. Api tetap bersinar dari mata, kemudian lidahnya mulai memanjang. Bergoyang kekiri-kekanan seolah ingin menyapu kepala muridnya, gigi taringnya memanjang dan kemudian kembali suaranya merekeh-rekeh, menjerit dan semakin pelan. Beberapa saat kepalanya kembali berputar dan naik turun, Api di mukanya terang-redup dan tak lama kemudian menghilang. Setelah itu gelap kembali, namun Bapa masih terdengar sibuk komat-kamit membaca mantra. Dalam pikiranku mungkin sedang sibuk dalam prosesmengembalikan wajah semula. Semua penonton terdengar menarik nafas lega. Terdengar seperti lepas dari sebuah ketegangan, namun malam masih terasa mencekam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar